Langsung ke konten utama

Postingan

Ada cahaya yang tidak menyilaukan, hanya seberkas lembut, menyentuh permukaan meja kayu, menyelinap lewat jendela yang terbuka setengah. Itu bukan cahaya yang ingin dilihat dunia, tapi cahaya yang hanya bisa dirasakan hati. Ia hadir dalam diam, seperti doa yang tak diucapkan, seperti ingatan yang tak ingin hilang. Cahaya itu bukan kemenangan, bukan jawaban besar. Ia hanyalah kehangatan kecil yang membuat kita tetap percaya, bahwa esok masih layak ada. Dalam kesunyian musik yang perlahan mengalir, cahaya itu menjadi teman, menjadi saksi, menjadi alasan untuk tetap berjalan.

Ingatan Angin

Aku adalah angin, yang menyusup di antara dahan zaitun dan menyisir rambut-Mu saat Kau menunduk dalam doa. Aku tak lupa, tak pernah bisa lupa, satu minggu yang seperti luka yang tak kunjung sembuh dari langit. Hari itu Kau masuk Yerusalem, aku meniup dedaunan palem yang melambai, mereka berseru “Hosana!” tapi aku sudah dengar suara lain yang sedang diasah di sudut hati para imam. Suara salib, suara murka yang menyelinap. Aku meliuk di ruang kudus Bait Allah, saat Kau jungkirkan meja-meja dan kemarahan-Mu seperti badai yang suci. Para pedagang memaki dalam diam, tapi aku tahu, mereka menyimpan dendam dan mulai menghitung waktu-Mu. Aku berhembus di ruang atas, saat Kau membasuh kaki mereka satu per satu. Tubuh-Mu seperti pelita yang mengajar kasih meski malam makin tebal dan Yudas menyembunyikan uang seperti duri di balik senyum. Getsemani. Aku menggigil di antara pepohonan melihat-Mu tersungkur di tanah, keringat-Mu bercampur darah, doa-Mu sunyi tapi penuh ge...

Asmara Matahari

Kami ada pada mula-mula Diciptakan pada waktu yang sama Hanya bertatap sebentar saja Lalu terpisah untuk selamanya Dia yang diciptakan bersama ku pada mulanya Ternyata tak bisa bersama pada akhirnya Pada setiap putarannya kami saling menatap Tak bicara hanya melihat Syukurlah dia baik-baik saja Apakah layak aku mengadu pada Sang Pencipta Mengapa aku harus melihat dia yang begitu indahnya? Dalam cinta amarahku menyala-nyala Apakah untuk ini diriku ada? Ataukah hidup hanya persinggahan semata? Bila pertemuan hanyalah bayangan Adakah tujuan di balik penantian? Mungkin hidup bukan sekadar cinta yang fana Melainkan perjalanan menuju cahaya Menemukan arti dalam setiap luka Dan merangkai hikmah dari yang tiada. Aku, matahari yang terus menyala Memberi terang bagi semesta Namun tak pernah menyentuh apa yang dicinta. Jika hidupku adalah api abadi Mungkin tujuanku adalah memberi Dan bukan untuk memiliki

Sang Raksasa dan Anak Pemberani

Dahulu kala, pada masa India kuno, ada seorang raksasa jahat yang memiliki kastel besar menghadap ke laut. Karena selama bertahun-tahun sang raksasa pergi berperang, anak-anak di desa sekitar kerap datang dan bermain dengan penuh kegembiraan di taman indah milik sang raksasa. Suatu hari, sang raksasa kembali dan mengusir semua anak dari tamannya. 'Jangan pernah datang lagi!' teriaknya sambil mengempaskan pintu dari kayu ek yang besar dengan jijik. Kemudian, dia membuat tembok pualam besar di sekeliling taman agar anak-anak tidak dapat masuk. Musim dingin datang membawa angin dingin yang menusuk, yang biasa terjadi di bagian paling utara subkontinen India, dan sang raksasa berharap kehangatan akan segera datang. Musim semi pun tiba, mendatangi desa yang terbentang di bawah kastelnya. Namun, cengkeraman musim dingin enggan meninggalkan tamannya. Kemudian, suatu hari, sang raksasa akhirnya mencium wangi musim semi dan merasakan sinar matahari menerobos jendelanya. 'Musim semi ...

Keteguhan Hati

Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash Dua orang kakek yang sudah lama tidak bertemu membuat janji bertemu di depan sekolah tempat di mana mereka pernah menuntut ilmu. Kira-kira sudah 30 tahun mereka tidak pernah bertemu, dahulu mereka adalah teman yang sangat akrab. Pada pertemuan itu mereka saling memuji tentang apa yang mereka telah capai, tetapi kemudian mereka berdua terdiam lalu menangis. Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui  yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari." Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yan...

Kata Baik

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash Kutuliskan sebuah kata... Lalu kata itu memanggil sahabat-sahabatnya; senyum, riang, hangat, ramah dan kata lainnya. Mereka berbaris membentuk sebuah paragraf. Dari tengah-tengah paragraf itu muncul kata baik yang menggoyang-goyangkan pena ku. Ditulisnya juga sedih, sepi, dingin, gundah, amarah dan kata lainnya. Cerita menjadi begitu berwarna. Dari perasaan yang gembira aku mulai merasakan duka. Setelah ku seka air mata, aku sudah di akhir cerita. Lalu kata pengertian menjelaskan bahwa hanya "baik" yang dapat menerima segalanya.

Angin

Hi Angin, kamu dimana? Tak seorang pun tahu kamu dari mana Tak seorang pun tahu kamu akan ke mana Aku kira di dalam kesunyian kamu ada Sampai kegundahan datang menghampiriku diam-diam Aku kira di dalam keramaian kamu ada Sampai sepi menyelimuti diri, berteriak-teriak kamu tidak menjawab Yang ku minta hanya satu kepada Sang Pencipta Bisikan namaku di dalam hatimu Bisikan namaku di dalam hatimu Bisikan namaku di dalam hatimu

Yang Aku Tahu

Photo by  Samantha Sophia  on  Unsplash Seorang muda yang baru menyelesaikan belajarnya di seminari, melayani di sebuah gereja. Ia dipercayakan untuk membawakan renungan di ibadah remaja. Selama empat kali membawakan renungan, pemuda ini hanya membahas mengenai rendah hati saja. Melihat hal ini dua pendeta senior mengajaknya berbicara. Pendeta pertama mengatakan bahwa renungan yang dibawakan jangan hanya membahas satu hal saja, renungan harus lebih bervariasi agar remaja tidak bosan mendengarnya. Kemudian pemuda itu menunduk dan berkata “Hanya itu yang aku tahu Pak”. Di lain tempat pendeta yang lain memuji renungan yang dibawakannya, Ia berkata bahwa renungan tentang rendah hati yang dibawakannya selama satu bulan ini begitu dalam, begitu kaya akan pengertian dan hikmat, begitu memberkati dan pada beberapa sesi, pendeta ini berkata bahwa para orang tua remaja yang duduk bersamanya sesekali mengusap-usap air mata. Kemudian pemuda ini pun menunduk dan berkata “Ha...

Aku Tidak Lulus

Photo by  Kat J  on  Unsplash Pagi itu setelah sekian lama mempelajari kebijaksanaan hidup, Guru mengumpulkan seluruh muridnya. Ia membisikkan satu-persatu muridnya bagaimana agar seseorang dapat mencapai Nirvana, tetapi Guru juga berkata agar tidak menceritakannya kepada orang lain. Dengan menceritakan hal tersebut kepada orang lain maka orang tersebut akan ditolak oleh Nirvana, sebab ini adalah rahasia suci yang hanya diberitakan kepada orang-orang yang telah mempelajari kebijaksaan hidup. Dan ini adalah ujian terakhir dari Guru. Murid-murid yang telah dibisikkan Guru begitu bahagia, tetapi ada satu murid yang setelah mendengarnya, menangis. Keesokan harinya murid itu mendatangi Guru di malam hari, Ia menangis dan berkata “ia tidak lulus”, ia bercerita bahwa telah mengatakan apa yang Guru bisikkan kepadanya ke seluruh orang di desa. Lalu Guru berkata “kamu lulus”.

Pendetaku : Datang Terlambat

Selesai Ibadah Pagi, Pak Pendeta melihat wajah Pak Budi begitu muram.. Ia kemudian dipanggilnya untuk berbicara di ruang pastoral. Di ruang pastoral Pak Budi menceritakan bahwa ia muram karena merasa serba salah. Beberapa minggu ini ia datang terlambat ke gereja karena harus menunggu istrinya yang lama saat siap-siap ke gereja. Ia pernah meninggalkan istrinya dan pergi lebih dulu dan akhirnya mereka bertengkar saat pulang ke rumah. Ia ingin disiplin untuk tidak datang terlambat ke gereja, tapi ia juga tidak ingin ada pertengkaran dengan istrinya. Lalu Pak Pendeta memberikan nasihat kepadanya : "Minggu besok kamu harus tunggu istrimu bahkan bantu ia siap-siap, bila tetap terlambat tidak apa-apa.. jangan perasaan kesal karena terlambat membuat mu marah pada hari itu.". Pak Budi kemudian berpamitan untuk pulang kepada Pak Pendeta. Minggu berikutnya Pak Budi datang terlambat bersama keluarganya, setelah usai Ibadah Pak Pendeta menghampiri Pak Budi dan keluarga. Ia menasehat...

Bara Jiwa

Apakah aku harus menyerah dengan diam, yang kusebut ketenangan? Apakah aku harus berjuang dengan ketidakpastian, yang kusebut penolakan? Bila ini cobaan aku pasti akan memenang! Bila ini larangan, mungkinkah aku melawan semesta? Langit berputar mengelilingi ku, bagaimanapun aku bertindak! Malam datang lagi dan lagi hingga aku melemah, sampai kapan aku dapat terus membuka mata? Dimana suara itu yang kutunggu-tunggu sebagai tanda? Dimana teriakan itu yang kunanti-nanti sebagai perintah? Sudahlah jiwa, aku tahu ini akan sia-sia.

Pelajaran dari hujan

Langit begitu gelap ketika 3 kakak beradik ingin pulang ke rumah. Mereka hanya membawa 2 jas hujan saja. Anak kedua langsung menggunakan jas hujannya. Karena hanya tersisa 1 jas hujan, sang kakak menyuruh adik terkecil untuk menggunakannya seraya berkata : "Hanya akan mendung saja dan takkan turun hujan sampai kita di rumah". Lalu adik terkecil mengenakan jas hujan yang kebesaran tersebut. Mereka pulang dengan berlari, sesekali sang kakak menunggu adik terkecilnya. Sesampai di rumah Ibu menanyakan mengapa sang kakak dan adik terkecil gembira sedangkan kakak kedua cemberut. Sang kakak pertama berkata bahwa ia bahagia karena apa yang dikatakan sebelumnya benar bahwa langit hanya mendung saja. Sang kakak kedua cemberut karena ia kesal sudah susah payah menggunakan jas hujan tetapi tidak turun hujan. Sang adik terkecil gembira karena kakak pertamanya tidak basah kuyup karena hujan. Lalu Ibu tersenyum. Dari balik jendela nenek memperhatikan dan baru menya...

Yang Tetap

Seperti embun yang disapu Mentari Yang tak pernah menyerah untuk datang setiap pagi Seperti awan yang dilenyapkan hujan Ia jatuh tetapi akan naik kembali Demikian rasa, tidak akan pernah lenyap Hanya berubah cita

Diam

Apakah bila tak terucap sepatah kata pun itu diam? Apakah bila tak tertulis satu huruf pun itu diam? Apakah bila kita saling memikirkan dan tak berbicara itu diam? Apakah bila kita saling memandang dan tak berkata itu diam? Aku tidak benar-benar diam

Sajak lalu

Ada masa dimana Rajawali berhenti dan berdiam Hujan tidak membasahi bumi Dan sahabat meninggalkan. Bukan karena Rajawali menyerah kepada badai Atau hujan melupakan bumi Dan sahabat ingin berpisah dan pergi Tetapi ada fase dimana untuk tetap bersama kita harus berpisah. Bukankah kita akan saling merindu? bukankah kamu menjadi lebih nyata dipikiranku? bukankah bukankah bukankah? Aku merasa telah melewati sesuatu yang penting di masa lalu Tapi apa itu? Ketika aku melihatmu baru ku tahu Banyak waktu ku lewati tanpa mengenalmu Kamu hanya lalu.. SIAL !! Satu dasawarsa telah berlalu tapi siapa aku? Aku adalah batu yang hanya diam Melihat indahnya bumi tetapi tidak dapat menghampiri

Yairus

Jumat kemarin saat doa malam, salah seorang sahabat gereja membawakan renungan tentang Yairus. Sebuah renungan yang indah tentang hidup seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus. Kebiasaan didoa malam adalah sebelum doa akan ada renungan yang dibagikan dan share. Berikut share dari saya tentang Yairus. Markus 5:21-22. "Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu  mengerumuni Dia. Sedang Ia berada ditepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Seorang ayah yang anaknya sedang sakit hampir mati mencari Tuhan Yesus agar kiranya Tuhan mau meletakkan tangan-Nya kepada anak itu dan anak itu akan sembuh. Saya pikir bila anak itu hampir mati, maka ayah tersebut pasti bur...

Sekelebat Suara

Dengan tidak merendahkan dan menghargai.. ilmu diberi Dengan tidak membesarkan dan mengasihi.. damai diraih Yang kecil membelakangi dan yang besar menutupi Apa lebihnya menjadi yang diketahui? bila harus ada yang tidak diketahui Seorang raja tegak berdiri dan budak berlutut mencium kaki Apa karena menaklukan? atau tidak ada yang dapat ditaklukan!

Potong Tanganmu !

Seorang ayah yang bijaksana memiliki anak yang sangat nakal, di sekolahnya anak ini sering kali berkelahi dengan temannya. Setiap dinasehati ayahnya ia selalu berkata akan berubah, tetapi kenakalan tetap dilakukannya. Suatu hari saat ayah anak itu pulang dari kerjanya ia terkejut karena di rumahnya banyak sekali orang yang berkumpul. Setelah orang-orang tersebut membuka jalan untuk ia masuk, ia melihat seorang pria besar sedang memarahi anak dan istrinya. Ternyata anak tersebut baru saja tawuran dengan anak sekolah lainnya. Tawuran tersebut mengakibatkan tangan anak pria besar itu putus dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pria besar itu berteriak-teriak sambil mengacungkan parang besar ditangannya untuk menuntut balas. Dengan sigap ayah yang bijaksana tersebut merangkul anak dan istrinya dan menarik mereka mundur. Ratusan kata maaf dan permohonan ampun diutarakan ayah tersebut kepada pria besar yang sedang naik pitam, apa daya ia tetap tidak dapat memaafkannya. Akhirnya ayah yang ...

Antre

Beberapa waktu lalu kata "antre" terngiang dikepala, dalam KBBI antre berarti berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Di kota Jakarta yang padat dan ramai ini melihat deretan orang yang menunggu untuk dilayani seperti di : pom bensin, rumah makan, bioskop dan toko sudah menjadi hal biasa. Walaupun hal tersebut biasa dilihat, tapi masih banyak yang tidak memahami maksud antre. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana beberapa orang dengan rasa tidak malu atau memang menganggap kelakuannya normal atau sesuai dengan norma-normal masyarakat menggunakan uang, kekuasaan atau kekuatan tidak ikut berderet sesuai urutan datang. Contohnya waktu mama urus KTP, waktu itu aturan pengambilan KTP adalah 2 minggu setelah pengajuan pembuatan/perpanjang, hari itu saya ikut antar mama untuk ambil KTP yang sudah 2 minggu lalu diurus. Sampai disana ternyata KTP tersebut belum dibuat, lalu mama tanya kok belum dibuat... kemudian petugas tersebut baru mengurus KTP t...

Kehilangan nama?

Di salah satu bagian dari buku "Burung Berkicau" karya Anthony de Mello SJ terdapat kisah ber judul  "baiklah,baiklah", berikut kisahnya : Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah, Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa. Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, 'Baiklah, baiklah.' Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya. Guru itu jatuh namanya...