Langsung ke konten utama

Pelajaran dari hujan

Langit begitu gelap ketika 3 kakak beradik ingin pulang ke rumah.
Mereka hanya membawa 2 jas hujan saja.
Anak kedua langsung menggunakan jas hujannya.
Karena hanya tersisa 1 jas hujan, sang kakak menyuruh adik terkecil untuk menggunakannya seraya berkata : "Hanya akan mendung saja dan takkan turun hujan sampai kita di rumah".
Lalu adik terkecil mengenakan jas hujan yang kebesaran tersebut.

Mereka pulang dengan berlari, sesekali sang kakak menunggu adik terkecilnya.
Sesampai di rumah Ibu menanyakan mengapa sang kakak dan adik terkecil gembira sedangkan kakak kedua cemberut.
Sang kakak pertama berkata bahwa ia bahagia karena apa yang dikatakan sebelumnya benar bahwa langit hanya mendung saja.
Sang kakak kedua cemberut karena ia kesal sudah susah payah menggunakan jas hujan tetapi tidak turun hujan.
Sang adik terkecil gembira karena kakak pertamanya tidak basah kuyup karena hujan.
Lalu Ibu tersenyum.

Dari balik jendela nenek memperhatikan dan baru menyadari mengapa anaknya lama di kamar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari pertama di AVC Depok

 Yup, AVC Depok !!! Tadi dijalan waktu pulang dari kantor kepikiran untuk mengabadikan hari pertama di AVC Depok,  mengapa diabadikan ? karena mungkin moment-moment disana mau gw ingat lagi soalnya menurut gw ikut dalam AVC Depok adalah sebuah perjuangan. Buat yang belum tahu AVC Depok itu apa, AVC Depok adalah singkatan dari Autodidact Violin Community, komunitas Biola yang berada di Depok tepatnya Perpustakan UI. Untuk informasi AVC Depok disearch di google aja ya banyak kok infonya.. atau kunjungin aja webnya disini http://depok.avc.web.id/ Oke balik lagi, sebenarnya sebelum ikut AVC Depok gw pernah private gitu di Taman Suropati nga lama sih... kira-kira 1 bulan lebih, setelah itu vakum gitu nga kesana-sana lagi... biola jarang dimainin dan kalo dimainin juga cuma tangga nada aja sama lagu-lagu suzuki book 1, selama berbulan-bulan tuh begitu terus kira-kira 1 tahun deh.. (itu mah bukan berbulan-bulan jun hahaha, *biar berasa sebentar). Nah dimasa kegelapan itu se...

Keteguhan Hati

Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash Dua orang kakek yang sudah lama tidak bertemu membuat janji bertemu di depan sekolah tempat di mana mereka pernah menuntut ilmu. Kira-kira sudah 30 tahun mereka tidak pernah bertemu, dahulu mereka adalah teman yang sangat akrab. Pada pertemuan itu mereka saling memuji tentang apa yang mereka telah capai, tetapi kemudian mereka berdua terdiam lalu menangis. Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui  yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari." Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yan...

Ingatan Matahari

Bukan air mata tetapi darah. Bukan hanya penderitaan tetapi maut. Hari itu aku melihat semua kepalsuan dari yang menggebuh-gebuh, keramaian dikota raja, tetesan darah disepanjang jalan. Tiga kayu terpancang, dua orang tersalib. Siapakah yang terlupa? Siapakah yang tersisih? Saat aku berada tepat ditengah cakrawala barulah ku lihat siapa Dia yang terlupa, siapa Dia yang tersisih. WajahNya tidak tampak padaku begitu samar dengan darah. Saat ku lihat Ia telah tersalib di tengah dan menggenapi jumlah kayu yang terpancang, ku tutup mataku. Aku tak tahan melihatNya dan mereka pun tak dapat melihatku. Bumi bergoncang, Seorang Agung mendapatkan yang tidak semestinya. Kini telah ratusan ribu hari berlalu, setiap pagi aku bersemangat untuk menceritakan kemuliaanNya melalui cahayaku, setiap pagi aku bersukacita melihat benih-benih gandum yang terus tumbuh;  benih-benih gandum yang Ia sayangi, benih-benih gandum yang karenanya Ia relah mati.