Ada cahaya yang tidak menyilaukan, hanya seberkas lembut, menyentuh permukaan meja kayu, menyelinap lewat jendela yang terbuka setengah. Itu bukan cahaya yang ingin dilihat dunia, tapi cahaya yang hanya bisa dirasakan hati. Ia hadir dalam diam, seperti doa yang tak diucapkan, seperti ingatan yang tak ingin hilang. Cahaya itu bukan kemenangan, bukan jawaban besar. Ia hanyalah kehangatan kecil yang membuat kita tetap percaya, bahwa esok masih layak ada. Dalam kesunyian musik yang perlahan mengalir, cahaya itu menjadi teman, menjadi saksi, menjadi alasan untuk tetap berjalan.
Aku adalah angin, yang menyusup di antara dahan zaitun dan menyisir rambut-Mu saat Kau menunduk dalam doa. Aku tak lupa, tak pernah bisa lupa, satu minggu yang seperti luka yang tak kunjung sembuh dari langit. Hari itu Kau masuk Yerusalem, aku meniup dedaunan palem yang melambai, mereka berseru “Hosana!” tapi aku sudah dengar suara lain yang sedang diasah di sudut hati para imam. Suara salib, suara murka yang menyelinap. Aku meliuk di ruang kudus Bait Allah, saat Kau jungkirkan meja-meja dan kemarahan-Mu seperti badai yang suci. Para pedagang memaki dalam diam, tapi aku tahu, mereka menyimpan dendam dan mulai menghitung waktu-Mu. Aku berhembus di ruang atas, saat Kau membasuh kaki mereka satu per satu. Tubuh-Mu seperti pelita yang mengajar kasih meski malam makin tebal dan Yudas menyembunyikan uang seperti duri di balik senyum. Getsemani. Aku menggigil di antara pepohonan melihat-Mu tersungkur di tanah, keringat-Mu bercampur darah, doa-Mu sunyi tapi penuh ge...