Langsung ke konten utama

Ingatan Angin

Aku adalah angin,

yang menyusup di antara dahan zaitun
dan menyisir rambut-Mu saat Kau menunduk dalam doa.
Aku tak lupa, tak pernah bisa lupa,
satu minggu yang seperti luka
yang tak kunjung sembuh dari langit.

Hari itu Kau masuk Yerusalem,
aku meniup dedaunan palem yang melambai,
mereka berseru “Hosana!”
tapi aku sudah dengar suara lain
yang sedang diasah di sudut hati para imam.
Suara salib, suara murka yang menyelinap.

Aku meliuk di ruang kudus Bait Allah,
saat Kau jungkirkan meja-meja
dan kemarahan-Mu seperti badai yang suci.
Para pedagang memaki dalam diam,
tapi aku tahu, mereka menyimpan dendam
dan mulai menghitung waktu-Mu.

Aku berhembus di ruang atas,
saat Kau membasuh kaki mereka satu per satu.
Tubuh-Mu seperti pelita yang mengajar kasih
meski malam makin tebal
dan Yudas menyembunyikan uang
seperti duri di balik senyum.

Getsemani.
Aku menggigil di antara pepohonan
melihat-Mu tersungkur di tanah,
keringat-Mu bercampur darah,
doa-Mu sunyi tapi penuh gelora:
“Jika cawan ini bisa lalu…”
Tapi Kau meneguknya juga.

Saat ciuman pengkhianatan itu mendarat,
aku meniupkan angin dingin di antara tombak-tombak,
melihat Petrus menggenggam pedang
dan juga penyesalan.

Di ruang pengadilan,
aku mendengar ejekan dan ludah,
melihat jubah-Mu dicambuk
dan mahkota duri dipaksa ke dahi.
Aku ingin mengamuk,
tapi aku hanya angin…
aku hanya bisa membawa bau darah dan air mata.

Jalan ke Golgota panjang,
aku menyentuh wajah ibu-Mu
dan menyeka debu dari wajah-Mu.
Kayu salib membebani pundak-Mu
tapi kasih-Mu tetap tak goyah.
Di atas bukit,
saat paku itu menembus tangan,
aku berteriak-teriak kepada langit, mengapa kamu diam?
dan langit pun kelam.

“Sudah selesai.”
Saat Kau menghembuskan napas terakhir,
akulah yang membawa napas itu
menjadi saksi kasih terbesar yang pernah ada.

Kini, setiap Paskah datang,
aku masih bertiup pelan
di antara zaitun, di atas salib-salib kecil
dan kubur kosong.
Aku membawa kabar:
Dia disalib. Dia mati. Dia bangkit.

Aku adalah angin,
dan aku tak pernah lupa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keteguhan Hati

Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash Dua orang kakek yang sudah lama tidak bertemu membuat janji bertemu di depan sekolah tempat di mana mereka pernah menuntut ilmu. Kira-kira sudah 30 tahun mereka tidak pernah bertemu, dahulu mereka adalah teman yang sangat akrab. Pada pertemuan itu mereka saling memuji tentang apa yang mereka telah capai, tetapi kemudian mereka berdua terdiam lalu menangis. Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui  yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari." Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yan...

Hari pertama di AVC Depok

 Yup, AVC Depok !!! Tadi dijalan waktu pulang dari kantor kepikiran untuk mengabadikan hari pertama di AVC Depok,  mengapa diabadikan ? karena mungkin moment-moment disana mau gw ingat lagi soalnya menurut gw ikut dalam AVC Depok adalah sebuah perjuangan. Buat yang belum tahu AVC Depok itu apa, AVC Depok adalah singkatan dari Autodidact Violin Community, komunitas Biola yang berada di Depok tepatnya Perpustakan UI. Untuk informasi AVC Depok disearch di google aja ya banyak kok infonya.. atau kunjungin aja webnya disini http://depok.avc.web.id/ Oke balik lagi, sebenarnya sebelum ikut AVC Depok gw pernah private gitu di Taman Suropati nga lama sih... kira-kira 1 bulan lebih, setelah itu vakum gitu nga kesana-sana lagi... biola jarang dimainin dan kalo dimainin juga cuma tangga nada aja sama lagu-lagu suzuki book 1, selama berbulan-bulan tuh begitu terus kira-kira 1 tahun deh.. (itu mah bukan berbulan-bulan jun hahaha, *biar berasa sebentar). Nah dimasa kegelapan itu se...

Nuja

Tak ada hati yang lebih besar dari hati orang-orang yang walaupun tidak salah tetapi meminta maaf, yang walaupun dihina tetapi terus menolong, yang walaupun disakiti tetapi terus mengasihi. Tak ada jiwa yang lebih kuat dari jiwa orang-orang yang walaupun susah tetapi pantang menyerah, yang walaupun lemah tetapi tak pernah pasrah, yang walaupun jatuh tetapi tak pernah mengeluh. Kepadanya pertolongan Allah akan turun seperti hujan yang pernah menenggelamkan bumi. Sehingga gempar seluruh ciptaanNya.