Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash
Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari."
Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yang dilakukan itu tidak menjadi penyesalan? Di dalam Alkitab terdapat sebuah kisah yang dapat menjawab pertanyaan ini.
Adalah Yosua seorang abdi Musa hamba Allah, sesudah Musa mati Allah berfirman kepadanya :
"Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.
Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.
Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1 : 2-5)
Nats yang baru saja kita baca adalah kali pertama Tuhan Allah berfirman kepada Yosua, suatu tugas yang ditetapkan Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya untuk memimpin bangsa yang Ia pilih masuk ke tanah perjanjian.
Walaupun Tuhan Allah sendiri yang menyatakannya, tetapi Yosua goyah juga hatinya. Hal ini dapat kita ketahui dari ayat-ayat berikutnya, Tuhan Allah berfirman kepada Yosua untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya dengan sungguh-sungguh sebanyak tiga kali. Di dalam ketiga pernyataan Allah tersebut kita dapat belajar bahwa di dalam keteguhan hati kita memerlukan tiga hal yang menjadi akar dari keteguhan hati tersebut :
1. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka." (Yosua 1 : 6)
Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa Yosua lah yang "akan memimpin bangsa ini". Allah memberikan visi kepada Yosua, sebuah rencana Allah yang diberitahukan kepadanya khusus dan akan menjadi jalan hidupnya.
Agar hidup tidak dalam penyesalan, berjalanlah pada visi yang Sang Pencipta berikan untukmu.. atau paling tidak jangan melenceng dari nilai-nilai luhur dalam hatimu, sebab yang lalu tidak dapat diulang.. yang lalu hanya dapat diingat.
Orang-orang suci yang hidup untuk orang lain karena mengikuti Kristus jarang sekali terlihat nyaman menurut ukuran dunia, tetapi mereka yang tidak terlihat "memiliki dunia" ini tidak pernah menyesali apa yang telah mereka pilih.
2. "Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi." (Yosua 1 : 7)
Bila seseorang mendapatkan tugas tertentu atau harus mengerjakan sesuatu yang belum ia tahu, ia akan berkata atau berpikir "bagaimana"? pada bagian ini Tuhan Allah mengajarkan kepada Yosua bagaimana caranya ia dapat menjalankan visi Tuhan, untuk segala sesuatu bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan Musa.
Negara memiliki hukum, taatilah hukum tersebut.
Alam memiliki hukum-nya, janganlah mengabaikannya.
Tuhan Yesus telah mengajarkan hukum kasih; dengarkan, renungkan dan lakukan.
3. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1 : 8)
Pada akhirnya keteguhan hati seseorang tidak dapat tumbuh tanpa rasa percaya. Pada ayat ini kita dapat belajar bahwa kunci menumbuhkan rasa percaya adalah dengan mengenal, kunci keteguhan hati terhadap Firman Allah adalah dengan merenungkan Firman Allah.
Pada sebuah scene film divergen diperlihatkan bagaimana seseorang diklasifikasikan ke dalam 5 faksi berdasarkan karakternya. Bila kita menghadapi masalah, karakter apa yang akan muncul? marah, kecewa, diam atau bersyukur ? bila seseorang itu merenungkan Firman Tuhan siang dan malam maka dia akan bertindak hati-hati seseuai dengan segala yang tertulis di dalamnya.
Kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh.
Knp gak cerita Ed...
BalasHapus