Selesai Ibadah Pagi, Pak Pendeta melihat wajah Pak Budi begitu muram.. Ia kemudian dipanggilnya untuk berbicara di ruang pastoral.
Di ruang pastoral Pak Budi menceritakan bahwa ia muram karena merasa serba salah. Beberapa minggu ini ia datang terlambat ke gereja karena harus menunggu istrinya yang lama saat siap-siap ke gereja. Ia pernah meninggalkan istrinya dan pergi lebih dulu dan akhirnya mereka bertengkar saat pulang ke rumah. Ia ingin disiplin untuk tidak datang terlambat ke gereja, tapi ia juga tidak ingin ada pertengkaran dengan istrinya.
Lalu Pak Pendeta memberikan nasihat kepadanya : "Minggu besok kamu harus tunggu istrimu bahkan bantu ia siap-siap, bila tetap terlambat tidak apa-apa.. jangan perasaan kesal karena terlambat membuat mu marah pada hari itu.". Pak Budi kemudian berpamitan untuk pulang kepada Pak Pendeta.
Minggu berikutnya Pak Budi datang terlambat bersama keluarganya, setelah usai Ibadah Pak Pendeta menghampiri Pak Budi dan keluarga. Ia menasehati Pak Budi di depan keluarganya untuk tidak datang terlambat, melihat pak pendeta yang menasehati dengan lemah-lembut dan sang suami yang bertanggungjawab atas keterlambatan itu sang istri diam dan menunduk.
Setelahnya mereka tidak pernah datang terlambat lagi.
"Bila rasa bersalah tidak dapat mengubah, maka rasa kasih karena dibela bisa."
Di ruang pastoral Pak Budi menceritakan bahwa ia muram karena merasa serba salah. Beberapa minggu ini ia datang terlambat ke gereja karena harus menunggu istrinya yang lama saat siap-siap ke gereja. Ia pernah meninggalkan istrinya dan pergi lebih dulu dan akhirnya mereka bertengkar saat pulang ke rumah. Ia ingin disiplin untuk tidak datang terlambat ke gereja, tapi ia juga tidak ingin ada pertengkaran dengan istrinya.
Lalu Pak Pendeta memberikan nasihat kepadanya : "Minggu besok kamu harus tunggu istrimu bahkan bantu ia siap-siap, bila tetap terlambat tidak apa-apa.. jangan perasaan kesal karena terlambat membuat mu marah pada hari itu.". Pak Budi kemudian berpamitan untuk pulang kepada Pak Pendeta.
Minggu berikutnya Pak Budi datang terlambat bersama keluarganya, setelah usai Ibadah Pak Pendeta menghampiri Pak Budi dan keluarga. Ia menasehati Pak Budi di depan keluarganya untuk tidak datang terlambat, melihat pak pendeta yang menasehati dengan lemah-lembut dan sang suami yang bertanggungjawab atas keterlambatan itu sang istri diam dan menunduk.
Setelahnya mereka tidak pernah datang terlambat lagi.
"Bila rasa bersalah tidak dapat mengubah, maka rasa kasih karena dibela bisa."
Komentar
Posting Komentar