Langsung ke konten utama

Postingan

Asmara Matahari

Kami ada pada mula-mula Diciptakan pada waktu yang sama Hanya bertatap sebentar saja Lalu terpisah untuk selamanya Dia yang diciptakan bersama ku pada mulanya Ternyata tak bisa bersama pada akhirnya Pada setiap putarannya kami saling menatap Tak bicara hanya melihat Syukurlah dia baik-baik saja Apakah layak aku mengadu pada Sang Pencipta Mengapa aku harus melihat dia yang begitu indahnya? Dalam cinta amarahku menyala-nyala Apakah untuk ini diriku ada? Ataukah hidup hanya persinggahan semata? Bila pertemuan hanyalah bayangan Adakah tujuan di balik penantian? Mungkin hidup bukan sekadar cinta yang fana Melainkan perjalanan menuju cahaya Menemukan arti dalam setiap luka Dan merangkai hikmah dari yang tiada. Aku, matahari yang terus menyala Memberi terang bagi semesta Namun tak pernah menyentuh apa yang dicinta. Jika hidupku adalah api abadi Mungkin tujuanku adalah memberi Dan bukan untuk memiliki

Sang Raksasa dan Anak Pemberani

Dahulu kala, pada masa India kuno, ada seorang raksasa jahat yang memiliki kastel besar menghadap ke laut. Karena selama bertahun-tahun sang raksasa pergi berperang, anak-anak di desa sekitar kerap datang dan bermain dengan penuh kegembiraan di taman indah milik sang raksasa. Suatu hari, sang raksasa kembali dan mengusir semua anak dari tamannya. 'Jangan pernah datang lagi!' teriaknya sambil mengempaskan pintu dari kayu ek yang besar dengan jijik. Kemudian, dia membuat tembok pualam besar di sekeliling taman agar anak-anak tidak dapat masuk. Musim dingin datang membawa angin dingin yang menusuk, yang biasa terjadi di bagian paling utara subkontinen India, dan sang raksasa berharap kehangatan akan segera datang. Musim semi pun tiba, mendatangi desa yang terbentang di bawah kastelnya. Namun, cengkeraman musim dingin enggan meninggalkan tamannya. Kemudian, suatu hari, sang raksasa akhirnya mencium wangi musim semi dan merasakan sinar matahari menerobos jendelanya. 'Musim semi ...

Keteguhan Hati

Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash Dua orang kakek yang sudah lama tidak bertemu membuat janji bertemu di depan sekolah tempat di mana mereka pernah menuntut ilmu. Kira-kira sudah 30 tahun mereka tidak pernah bertemu, dahulu mereka adalah teman yang sangat akrab. Pada pertemuan itu mereka saling memuji tentang apa yang mereka telah capai, tetapi kemudian mereka berdua terdiam lalu menangis. Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui  yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari." Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yan...

Kata Baik

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash Kutuliskan sebuah kata... Lalu kata itu memanggil sahabat-sahabatnya; senyum, riang, hangat, ramah dan kata lainnya. Mereka berbaris membentuk sebuah paragraf. Dari tengah-tengah paragraf itu muncul kata baik yang menggoyang-goyangkan pena ku. Ditulisnya juga sedih, sepi, dingin, gundah, amarah dan kata lainnya. Cerita menjadi begitu berwarna. Dari perasaan yang gembira aku mulai merasakan duka. Setelah ku seka air mata, aku sudah di akhir cerita. Lalu kata pengertian menjelaskan bahwa hanya "baik" yang dapat menerima segalanya.

Angin

Hi Angin, kamu dimana? Tak seorang pun tahu kamu dari mana Tak seorang pun tahu kamu akan ke mana Aku kira di dalam kesunyian kamu ada Sampai kegundahan datang menghampiriku diam-diam Aku kira di dalam keramaian kamu ada Sampai sepi menyelimuti diri, berteriak-teriak kamu tidak menjawab Yang ku minta hanya satu kepada Sang Pencipta Bisikan namaku di dalam hatimu Bisikan namaku di dalam hatimu Bisikan namaku di dalam hatimu

Yang Aku Tahu

Photo by  Samantha Sophia  on  Unsplash Seorang muda yang baru menyelesaikan belajarnya di seminari, melayani di sebuah gereja. Ia dipercayakan untuk membawakan renungan di ibadah remaja. Selama empat kali membawakan renungan, pemuda ini hanya membahas mengenai rendah hati saja. Melihat hal ini dua pendeta senior mengajaknya berbicara. Pendeta pertama mengatakan bahwa renungan yang dibawakan jangan hanya membahas satu hal saja, renungan harus lebih bervariasi agar remaja tidak bosan mendengarnya. Kemudian pemuda itu menunduk dan berkata “Hanya itu yang aku tahu Pak”. Di lain tempat pendeta yang lain memuji renungan yang dibawakannya, Ia berkata bahwa renungan tentang rendah hati yang dibawakannya selama satu bulan ini begitu dalam, begitu kaya akan pengertian dan hikmat, begitu memberkati dan pada beberapa sesi, pendeta ini berkata bahwa para orang tua remaja yang duduk bersamanya sesekali mengusap-usap air mata. Kemudian pemuda ini pun menunduk dan berkata “Ha...

Aku Tidak Lulus

Photo by  Kat J  on  Unsplash Pagi itu setelah sekian lama mempelajari kebijaksanaan hidup, Guru mengumpulkan seluruh muridnya. Ia membisikkan satu-persatu muridnya bagaimana agar seseorang dapat mencapai Nirvana, tetapi Guru juga berkata agar tidak menceritakannya kepada orang lain. Dengan menceritakan hal tersebut kepada orang lain maka orang tersebut akan ditolak oleh Nirvana, sebab ini adalah rahasia suci yang hanya diberitakan kepada orang-orang yang telah mempelajari kebijaksaan hidup. Dan ini adalah ujian terakhir dari Guru. Murid-murid yang telah dibisikkan Guru begitu bahagia, tetapi ada satu murid yang setelah mendengarnya, menangis. Keesokan harinya murid itu mendatangi Guru di malam hari, Ia menangis dan berkata “ia tidak lulus”, ia bercerita bahwa telah mengatakan apa yang Guru bisikkan kepadanya ke seluruh orang di desa. Lalu Guru berkata “kamu lulus”.