Langsung ke konten utama

Postingan

Kata Baik

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash Kutuliskan sebuah kata... Lalu kata itu memanggil sahabat-sahabatnya; senyum, riang, hangat, ramah dan kata lainnya. Mereka berbaris membentuk sebuah paragraf. Dari tengah-tengah paragraf itu muncul kata baik yang menggoyang-goyangkan pena ku. Ditulisnya juga sedih, sepi, dingin, gundah, amarah dan kata lainnya. Cerita menjadi begitu berwarna. Dari perasaan yang gembira aku mulai merasakan duka. Setelah ku seka air mata, aku sudah di akhir cerita. Lalu kata pengertian menjelaskan bahwa hanya "baik" yang dapat menerima segalanya.

Angin

Hi Angin, kamu dimana? Tak seorang pun tahu kamu dari mana Tak seorang pun tahu kamu akan ke mana Aku kira di dalam kesunyian kamu ada Sampai kegundahan datang menghampiriku diam-diam Aku kira di dalam keramaian kamu ada Sampai sepi menyelimuti diri, berteriak-teriak kamu tidak menjawab Yang ku minta hanya satu kepada Sang Pencipta Bisikan namaku di dalam hatimu Bisikan namaku di dalam hatimu Bisikan namaku di dalam hatimu

Yang Aku Tahu

Photo by  Samantha Sophia  on  Unsplash Seorang muda yang baru menyelesaikan belajarnya di seminari, melayani di sebuah gereja. Ia dipercayakan untuk membawakan renungan di ibadah remaja. Selama empat kali membawakan renungan, pemuda ini hanya membahas mengenai rendah hati saja. Melihat hal ini dua pendeta senior mengajaknya berbicara. Pendeta pertama mengatakan bahwa renungan yang dibawakan jangan hanya membahas satu hal saja, renungan harus lebih bervariasi agar remaja tidak bosan mendengarnya. Kemudian pemuda itu menunduk dan berkata “Hanya itu yang aku tahu Pak”. Di lain tempat pendeta yang lain memuji renungan yang dibawakannya, Ia berkata bahwa renungan tentang rendah hati yang dibawakannya selama satu bulan ini begitu dalam, begitu kaya akan pengertian dan hikmat, begitu memberkati dan pada beberapa sesi, pendeta ini berkata bahwa para orang tua remaja yang duduk bersamanya sesekali mengusap-usap air mata. Kemudian pemuda ini pun menunduk dan berkata “Ha...

Aku Tidak Lulus

Photo by  Kat J  on  Unsplash Pagi itu setelah sekian lama mempelajari kebijaksanaan hidup, Guru mengumpulkan seluruh muridnya. Ia membisikkan satu-persatu muridnya bagaimana agar seseorang dapat mencapai Nirvana, tetapi Guru juga berkata agar tidak menceritakannya kepada orang lain. Dengan menceritakan hal tersebut kepada orang lain maka orang tersebut akan ditolak oleh Nirvana, sebab ini adalah rahasia suci yang hanya diberitakan kepada orang-orang yang telah mempelajari kebijaksaan hidup. Dan ini adalah ujian terakhir dari Guru. Murid-murid yang telah dibisikkan Guru begitu bahagia, tetapi ada satu murid yang setelah mendengarnya, menangis. Keesokan harinya murid itu mendatangi Guru di malam hari, Ia menangis dan berkata “ia tidak lulus”, ia bercerita bahwa telah mengatakan apa yang Guru bisikkan kepadanya ke seluruh orang di desa. Lalu Guru berkata “kamu lulus”.

Pendetaku : Datang Terlambat

Selesai Ibadah Pagi, Pak Pendeta melihat wajah Pak Budi begitu muram.. Ia kemudian dipanggilnya untuk berbicara di ruang pastoral. Di ruang pastoral Pak Budi menceritakan bahwa ia muram karena merasa serba salah. Beberapa minggu ini ia datang terlambat ke gereja karena harus menunggu istrinya yang lama saat siap-siap ke gereja. Ia pernah meninggalkan istrinya dan pergi lebih dulu dan akhirnya mereka bertengkar saat pulang ke rumah. Ia ingin disiplin untuk tidak datang terlambat ke gereja, tapi ia juga tidak ingin ada pertengkaran dengan istrinya. Lalu Pak Pendeta memberikan nasihat kepadanya : "Minggu besok kamu harus tunggu istrimu bahkan bantu ia siap-siap, bila tetap terlambat tidak apa-apa.. jangan perasaan kesal karena terlambat membuat mu marah pada hari itu.". Pak Budi kemudian berpamitan untuk pulang kepada Pak Pendeta. Minggu berikutnya Pak Budi datang terlambat bersama keluarganya, setelah usai Ibadah Pak Pendeta menghampiri Pak Budi dan keluarga. Ia menasehat...

Bara Jiwa

Apakah aku harus menyerah dengan diam, yang kusebut ketenangan? Apakah aku harus berjuang dengan ketidakpastian, yang kusebut penolakan? Bila ini cobaan aku pasti akan memenang! Bila ini larangan, mungkinkah aku melawan semesta? Langit berputar mengelilingi ku, bagaimanapun aku bertindak! Malam datang lagi dan lagi hingga aku melemah, sampai kapan aku dapat terus membuka mata? Dimana suara itu yang kutunggu-tunggu sebagai tanda? Dimana teriakan itu yang kunanti-nanti sebagai perintah? Sudahlah jiwa, aku tahu ini akan sia-sia.

Pelajaran dari hujan

Langit begitu gelap ketika 3 kakak beradik ingin pulang ke rumah. Mereka hanya membawa 2 jas hujan saja. Anak kedua langsung menggunakan jas hujannya. Karena hanya tersisa 1 jas hujan, sang kakak menyuruh adik terkecil untuk menggunakannya seraya berkata : "Hanya akan mendung saja dan takkan turun hujan sampai kita di rumah". Lalu adik terkecil mengenakan jas hujan yang kebesaran tersebut. Mereka pulang dengan berlari, sesekali sang kakak menunggu adik terkecilnya. Sesampai di rumah Ibu menanyakan mengapa sang kakak dan adik terkecil gembira sedangkan kakak kedua cemberut. Sang kakak pertama berkata bahwa ia bahagia karena apa yang dikatakan sebelumnya benar bahwa langit hanya mendung saja. Sang kakak kedua cemberut karena ia kesal sudah susah payah menggunakan jas hujan tetapi tidak turun hujan. Sang adik terkecil gembira karena kakak pertamanya tidak basah kuyup karena hujan. Lalu Ibu tersenyum. Dari balik jendela nenek memperhatikan dan baru menya...