Langsung ke konten utama

Postingan

Menghitung kembalian

Bila kita membeli sesuatu dan nilai uang yang kita gunakan untuk membayar ternyata lebih besar dari nilai yang harus dibayarkan, maka kita akan mendapat kembalian. Terkadang waktu menghitung jumlah kembalian antara pembeli dan penjual berbeda, bila pembeli lebih lama itu tidak masalah, karena pembeli tidak merasa menunggu, tapi lain hal bila penjual yang lama menghitung, maka pembeli akan merasa menuggu. Penjual tak akan mengembalikan uang kembalian sampai ia benar-benar yakin, bahwa hitungan kembalian sudah tepat. Untuk itu biasanya penjual dibantu alat seperti kalkulator atau sempoa. Membaca buku, mendengarkan seseorang menjelaskan dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kegiatan pengembangan pikiran tak akan benar-benar mengembangkan pikiran bila ia tidak "menghitung kembalian". Kamu tidak dapat meyakini sesuatu bila kamu tidak benar-benar yakin akan hal itu. Untuk yakin akan hal itu kamu harus "menghitung kembalianmu". Orang yang tidak "menghitung...

Ketakutan adalah tipuan

Demikianlah tulisan yang saya baca pada sebuah kalender di meja kerja teman. Kata-kata ini disertai dengan gambar seorang wanita yang merentangkan tangan seraya menarik anak panah dari busurnya dengan otot-otot yang terlatih pada kedua belah tangannya. Bila ketakutan adalah tipuan, maka setiap orang yang merasa takut adalah orang-orang yang telah tertipu. Menurut saya ketakutan adalah kesan yang timbul dari pikiran atau gagasan akan keadaan/hal yang diterima melalui indra ataupun ide, kesan ini muncul setelah seseorang itu pernah mengalaminya atau menyimpannya dalam ingatan, kesan ini membuat seseorang tidak tenang. Menariknya kesan ini lebih mendalam daripada gagasan atau pikiran yang menyebabkannya, contoh : bila seseorang itu waktu kecil pernah mendengar cerita tentang kengerian malam dari teman, maka saat malam tiba dan ia sendirian maka kesan akan cerita yang dulu pernah ia dengar akan muncul bahkan lebih kreatif dari yang pernah ia dengar (tentunya karena imajinasinya send...

Hati Yang Rindu

Beberapa minggu lalu, mama saya pulang ke Bangka untuk mengurus pembuatan kubur papa. Ada momen menarik sebelum mama pergi pulang ke Bangka, yaitu pada waktu ia pamit dengan cucunya Rachel. Waktu itu karena mama akan pulang Bangka pada hari sabtu maka hari sebelumnya saya jemput mama dari rumah cece agar bisa mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke Bangka. Waktu mama saya bilang ke cucunya kalau ia mau pulang kerumah (Bekasi) karena ingin ke Bangka, sang cucu mulai terlihat murung, wajahnya muram dan terlihat dia tidak suka dengan apa yang ia dengar. Pada waktunya pulang saya melihat keponakan saya itu baring-baring dilantai, cembetut dan hal-hal lain menyatakan kalau dia nga suka. Waktu mama keluar dari pintu rumah pun dia tidak mengantarkan sampai pintu berbeda dengan adiknya. Dari hal ini saya melihat bahwa setiap orang baik yang sudah dewasa atau bahkan masih kecil punya seseorang yang sangat dicintai dan disayanginnya. Mungkin dia adalah orang tua mu, kakak mu, adik mu,...

Dewa juga sulit menemukan seorang manusia berakhlak mulia

Ada sebuah cerita mengenai Lu Dongbin menjadi dewa, dan hendak mewariskan kekuatan gaibnya kepada seorang murid yang tidak mempunyai sifat serakah. Untuk menemukan murid yang sesuai dengan kriterianya, Lu Dongbin memikirkan sebuah rencana dan merubah dirinya menjadi seorang tua yang menjual kue bola manis. Ia memasang satu tulisan di kiosnya: "Satu koin - satu kue bola, dua koin - makan sepuasnya". Banyak orang datang makan kue bolanya hari itu, tetapi tidak ada yang membayar satu koin untuk satu kue bola, semua memilih dua koin agar dapat makan sepuasnya. Hari semakin larut, tiba-tiba datang Seorang anak muda dan membayar satu koin, memakan satu kue bola manis, lalu segera meninggalkan tempat. Lu Dongbin merasa senang dengan pembeli tersebut, lalu ia berusah mengejarnya dan bertanya pada orang itu, "Mengapa Anda tidak membayar dua koin dan bisa makan sepuasnya?" Anak muda itu menjawab dengan menyesal, "Saya hanya mempunyai sisa satu ko...

Surat Zhuge Liang

Zhuge Liang (181–234 AD) adalah seorang negarawan terkenal dan ahli strategi pada zaman Tiga Kerajaan. Kedudukan tertingginya adalah perdana menteri. Dia menulis "Surat kepada Putra" yang ditujukan kepada putranya,  Zhuge Qiao. Berikut isi surat yang ditulis oleh Zhuge Liang kepada putranya: "Surat untuk Putra" dari Zhuge Liang  Perilaku orang-orang yang memiliki kemampuan dan penuh dengan integritas tergantung pada perasaan paling dalam mereka, termasuk mempunyai ketenangan jiwa serta kemampuan memusatkan dan menyeimbangkan energi seseorang. Seseorang perlu mengultivasi jiwa dan raga, yang memerlukan seseorang agar memerhatikan prilakunya serta rajin. Jika seseorang tidak memandang nama dan keuntungan duniawi secara ringan, dia tidak akan dapat mengetahui dengan jelas tujuannya. Jika pikiran seseorang tidak tenang, dia tidak dapat menyadari standar yang luas. Apa yang dipelajari seseorang harus diserap sepenuhnya, dan untuk mengembangkan ba...

Orang Samaria yang murah hati

Kisah ini diawali dengan perjumpaan ahli Taurat dengan Tuhan Yesus dimana ahli Taurat ini bermaksud untuk mencobai Tuhan Yesus. Ahli Taurat mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan : "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?". Jawab Tuhan Yesus : "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?". Mendengar jawab Tuhan Yesus sang ahli Taurat langsung menjawab dengan jawaban : "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.". Jawaban Tuhan Yesus terhadap ahli Taurat tersebut seperti menanyakan "keahli Tauratannya", apa yang ia  sudah baca, apa yang telah ia mengerti tentang Taurat dan apa yang telah ia pahami tentang hukum Taurat. Kemudian Tuhan Yesus tidak hanya mengiyakan jawaban ahli Taurat tersebut melainkan menambahkan dengan berkata "...perbuatlah demik...