Kisah ini diawali dengan perjumpaan ahli Taurat dengan Tuhan Yesus dimana ahli Taurat ini bermaksud untuk mencobai Tuhan Yesus. Ahli Taurat mencobai Tuhan Yesus dengan pertanyaan : "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?". Jawab Tuhan Yesus : "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?". Mendengar jawab Tuhan Yesus sang ahli Taurat langsung menjawab dengan jawaban : "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan
kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.".
Jawaban Tuhan Yesus terhadap ahli Taurat tersebut seperti menanyakan "keahli Tauratannya", apa yang ia sudah baca, apa yang telah ia mengerti tentang Taurat dan apa yang telah ia pahami tentang hukum Taurat.
Kemudian Tuhan Yesus tidak hanya mengiyakan jawaban ahli Taurat tersebut melainkan menambahkan dengan berkata "...perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
Seperti ahli Taurat banyak dari kita hanya tahu Firman Tuhan, membaca Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan tanpa melakukannya. Disini Tuhan Yesus menyatakan bahwa bila kita berbuat demikian -seperti yang tertulis dalam Firman Tuhan- makan kita akan memperoleh hidup kekal.
Perbincangan berlanjut dengan pertanyaan dari ahli Taurat untuk membenarkan dirinya : "Dan siapakah sesamaku manusia?", kemudian Tuhan Yesus menceritakan tentang "Orang Samaria yang murah hati".
Pertanyaan kedua dari ahli Taurat ini seperti menanyakan "batasan" terhadap siapa yang layak dikasihi.
Dikisahkan : "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali."
Kisah ini menceritakan seorang Yudea yang turun dari Yerusalem menuju Yerikho yang dalam perjalanannya jatuh ketangan penyamun-penyamun. Orang tersebut dirampok habis-habisan dan dipukuli sampai setengah mati. Kebetulan disana lewat seorang imam yang juga turun melalui jalan tersebut mungkin karena dilihatnya orang tersebut entah sudah mati atau belum sehingga ia tidak berani untuk menghampirinya karena dalam hukum Taurat bersentuhan dengan mayat atau bangkai akan menajiskan. Begitupun saat seorang Lewi lewat, ia hanya melewatinya. Kemudian lewat lah dijalan tersebut seorang Samaria yang menolong orang tersebut dengan menyirami luka orang Yudea tersebut dengan minyak dan anggur kemudian membalut luka-lukanya, setelah itu orang yang terluka tersebut diangkat ke keledainya dan dibawa ketempat penginapan, di penginapan tersebut orang Samaria ini berpesan kepada pemilik penginapan untuk merawat orang Yudea itu dan bila dalam perawatannya ternyata menggunakan lebih dari dua dinar yang ia berikan maka ia akan menggantinya waktu ia kembali.
Antara orang Yudea dan orang Samaria terdapat kesenjangan yang telah berlangsung sejak lama, hal ini dikarenakan orang Samaria bukan asli orang Israel karena orang Samaria adalah orang Israel yang telah menikah dengan orang bukan Israel (campuran), sedangkan orang Yudea adalah orang asli Israel (tidak campuran).
Tuhan Yesus menggunakan orang Samaria sebagai contoh sebagai penolong orang Yudea yang menolong sampai tuntas bukan tidak ada alasan, mungkin salah-satu alasan Tuhan Yesus adalah untuk mengubah pola pikir bahwa orang Samaria adalah orang yang terbuang dan bahwa "sesamaku" bukan orang yang sama suku dengan kita, sama ras dengan kita, sama negara dengan kita, sama bangsa dengan kita, tetapi "sesamaku" ialah siapapun yang membutuhkan pertolongan kita. Jadi Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada batasan terhadap "sesamaku" dalam nengasihi.
Setelah menceritakan tentang "Orang Samaria yang murah hati" Tuhan Yesus bertanya kepada ahli Taurat tentang siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ketangan penyamun?, jawaban dari ahli Taurat itu ialah orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya,
Jawaban Tuhan Yesus terhadap ahli Taurat tersebut seperti menanyakan "keahli Tauratannya", apa yang ia sudah baca, apa yang telah ia mengerti tentang Taurat dan apa yang telah ia pahami tentang hukum Taurat.
Kemudian Tuhan Yesus tidak hanya mengiyakan jawaban ahli Taurat tersebut melainkan menambahkan dengan berkata "...perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."
Seperti ahli Taurat banyak dari kita hanya tahu Firman Tuhan, membaca Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan tanpa melakukannya. Disini Tuhan Yesus menyatakan bahwa bila kita berbuat demikian -seperti yang tertulis dalam Firman Tuhan- makan kita akan memperoleh hidup kekal.
Perbincangan berlanjut dengan pertanyaan dari ahli Taurat untuk membenarkan dirinya : "Dan siapakah sesamaku manusia?", kemudian Tuhan Yesus menceritakan tentang "Orang Samaria yang murah hati".
Pertanyaan kedua dari ahli Taurat ini seperti menanyakan "batasan" terhadap siapa yang layak dikasihi.
Dikisahkan : "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali."
Kisah ini menceritakan seorang Yudea yang turun dari Yerusalem menuju Yerikho yang dalam perjalanannya jatuh ketangan penyamun-penyamun. Orang tersebut dirampok habis-habisan dan dipukuli sampai setengah mati. Kebetulan disana lewat seorang imam yang juga turun melalui jalan tersebut mungkin karena dilihatnya orang tersebut entah sudah mati atau belum sehingga ia tidak berani untuk menghampirinya karena dalam hukum Taurat bersentuhan dengan mayat atau bangkai akan menajiskan. Begitupun saat seorang Lewi lewat, ia hanya melewatinya. Kemudian lewat lah dijalan tersebut seorang Samaria yang menolong orang tersebut dengan menyirami luka orang Yudea tersebut dengan minyak dan anggur kemudian membalut luka-lukanya, setelah itu orang yang terluka tersebut diangkat ke keledainya dan dibawa ketempat penginapan, di penginapan tersebut orang Samaria ini berpesan kepada pemilik penginapan untuk merawat orang Yudea itu dan bila dalam perawatannya ternyata menggunakan lebih dari dua dinar yang ia berikan maka ia akan menggantinya waktu ia kembali.
Antara orang Yudea dan orang Samaria terdapat kesenjangan yang telah berlangsung sejak lama, hal ini dikarenakan orang Samaria bukan asli orang Israel karena orang Samaria adalah orang Israel yang telah menikah dengan orang bukan Israel (campuran), sedangkan orang Yudea adalah orang asli Israel (tidak campuran).
Tuhan Yesus menggunakan orang Samaria sebagai contoh sebagai penolong orang Yudea yang menolong sampai tuntas bukan tidak ada alasan, mungkin salah-satu alasan Tuhan Yesus adalah untuk mengubah pola pikir bahwa orang Samaria adalah orang yang terbuang dan bahwa "sesamaku" bukan orang yang sama suku dengan kita, sama ras dengan kita, sama negara dengan kita, sama bangsa dengan kita, tetapi "sesamaku" ialah siapapun yang membutuhkan pertolongan kita. Jadi Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada batasan terhadap "sesamaku" dalam nengasihi.
Setelah menceritakan tentang "Orang Samaria yang murah hati" Tuhan Yesus bertanya kepada ahli Taurat tentang siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ketangan penyamun?, jawaban dari ahli Taurat itu ialah orang yang menunjukkan belas kasihan kepadanya,
Komentar
Posting Komentar