"Kami sedang di atas kapal, ombak besar datang dan ombak semakin
besar datang...", "Maaf aku akan menelponmu kembali, disini situasi
sedang kacau...", "Saya telah membuat semua berantakan, bagaimanakah
saya harus keluar dari situasi ini??".
Kalimat-kalimat diatas adalah kalimat-kalimat yang membuat kita bertanya : "apa yang akan terjadi berikutnya?".
Pada malam hari ini mari kita sama-sama belajar tentang "Kebaikan Allah yang Ajaib" dari Mazmur 107.
Diawali dengan ajakan sang pemazmur untuk bersyukur kepada TUHAN sebab Ia baik! bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya, menandai bahwa ayat-ayat berikutnya akan menceritakan betapa baiknya TUHAN itu. Dalam Pasal ini terdapat 4 kejadian yang diceritakan sang pemazmur untuk mengungkapkan betapa baiknya TUHAN.
Kejadian pertama adalah kisah pengembara yang mengembara di padang belantara, para pengembara tersebut tersesat, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.
Kejadian kedua adalah kisah orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam terkurung dalam sengsara dan besi. Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah, dan menista nasihat Yang Mahatinggi, maka ditundukkan-Nya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir dan tidak ada yang menolong. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka, dibawa-Nya mereka keluar dari dalam gelap dan kelam, dan diputuskan-Nya belenggu-belenggu mereka.
Kejadian ketiga adalah kisah orang-orang yang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur.
Kejadian keempat adalah kisah orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang.
Kejadian-kejadian ini menceritakan orang-orang yang sedang tertekan, berteriak minta tolong kepada Allah, Allah menjawab dan menyelamatkan mereka, mereka dipanggil untuk bersyukur pada-Nya. Tidak ada bedanya apakah kesulitan datang disebabkan kita mengundangnya dengan melakukan perbuatan dosa atau hanya karena hal-hal berjalan tidak semestinya. Saat ini, sebagaimana dalam masa Perjanjian Lama, satu-satunya kesulitan adalah apakah kita akan berseru kepada Allah ketika berada dalam kesulitan, mengakui dosa dan kebutuhan kita, menguduskan diri dihadapan-Nya, dan memohon keselamatan. Pengucapan syukur atas kebaikan Allah dan kasih-Nya yang tak pernah gagal pada masa lalu akan menguatkan kita untuk mempercayai Dia ketika kesulitan datang saat ini.
Kesetiaan Allah dalam menyelamatkan dan memulihkan orang-orang yang berseru kepada-Nya jangan pernah diragukan!!, bahkan saat engkau di depan pintu gerbang maut!!. Tuhan Yesus Sertai.
Mengenal Allah Secara Pribadi - J.I Packer
Kalimat-kalimat diatas adalah kalimat-kalimat yang membuat kita bertanya : "apa yang akan terjadi berikutnya?".
Pada malam hari ini mari kita sama-sama belajar tentang "Kebaikan Allah yang Ajaib" dari Mazmur 107.
Diawali dengan ajakan sang pemazmur untuk bersyukur kepada TUHAN sebab Ia baik! bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya, menandai bahwa ayat-ayat berikutnya akan menceritakan betapa baiknya TUHAN itu. Dalam Pasal ini terdapat 4 kejadian yang diceritakan sang pemazmur untuk mengungkapkan betapa baiknya TUHAN.
Kejadian pertama adalah kisah pengembara yang mengembara di padang belantara, para pengembara tersebut tersesat, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. Dibawa-Nya mereka menempuh jalan yang lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang.
Kejadian kedua adalah kisah orang-orang yang duduk di dalam gelap dan kelam terkurung dalam sengsara dan besi. Karena mereka memberontak terhadap perintah-perintah Allah, dan menista nasihat Yang Mahatinggi, maka ditundukkan-Nya hati mereka ke dalam kesusahan, mereka tergelincir dan tidak ada yang menolong. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nyalah mereka dari kecemasan mereka, dibawa-Nya mereka keluar dari dalam gelap dan kelam, dan diputuskan-Nya belenggu-belenggu mereka.
Kejadian ketiga adalah kisah orang-orang yang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan-kesalahan mereka; mereka muak terhadap segala makanan dan mereka sudah sampai pada pintu gerbang maut. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan diselamatkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur.
Kejadian keempat adalah kisah orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya. Mereka naik sampai ke langit dan turun ke samudera raya, jiwa mereka hancur karena celaka; mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, dan kehilangan akal. Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan dikeluarkan-Nya mereka dari kecemasan mereka, dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang.
Kejadian-kejadian ini menceritakan orang-orang yang sedang tertekan, berteriak minta tolong kepada Allah, Allah menjawab dan menyelamatkan mereka, mereka dipanggil untuk bersyukur pada-Nya. Tidak ada bedanya apakah kesulitan datang disebabkan kita mengundangnya dengan melakukan perbuatan dosa atau hanya karena hal-hal berjalan tidak semestinya. Saat ini, sebagaimana dalam masa Perjanjian Lama, satu-satunya kesulitan adalah apakah kita akan berseru kepada Allah ketika berada dalam kesulitan, mengakui dosa dan kebutuhan kita, menguduskan diri dihadapan-Nya, dan memohon keselamatan. Pengucapan syukur atas kebaikan Allah dan kasih-Nya yang tak pernah gagal pada masa lalu akan menguatkan kita untuk mempercayai Dia ketika kesulitan datang saat ini.
Kesetiaan Allah dalam menyelamatkan dan memulihkan orang-orang yang berseru kepada-Nya jangan pernah diragukan!!, bahkan saat engkau di depan pintu gerbang maut!!. Tuhan Yesus Sertai.
Mengenal Allah Secara Pribadi - J.I Packer
Komentar
Posting Komentar