Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Tetap

Seperti embun yang disapu Mentari Yang tak pernah menyerah untuk datang setiap pagi Seperti awan yang dilenyapkan hujan Ia jatuh tetapi akan naik kembali Demikian rasa, tidak akan pernah lenyap Hanya berubah cita

Diam

Apakah bila tak terucap sepatah kata pun itu diam? Apakah bila tak tertulis satu huruf pun itu diam? Apakah bila kita saling memikirkan dan tak berbicara itu diam? Apakah bila kita saling memandang dan tak berkata itu diam? Aku tidak benar-benar diam

Sajak lalu

Ada masa dimana Rajawali berhenti dan berdiam Hujan tidak membasahi bumi Dan sahabat meninggalkan. Bukan karena Rajawali menyerah kepada badai Atau hujan melupakan bumi Dan sahabat ingin berpisah dan pergi Tetapi ada fase dimana untuk tetap bersama kita harus berpisah. Bukankah kita akan saling merindu? bukankah kamu menjadi lebih nyata dipikiranku? bukankah bukankah bukankah? Aku merasa telah melewati sesuatu yang penting di masa lalu Tapi apa itu? Ketika aku melihatmu baru ku tahu Banyak waktu ku lewati tanpa mengenalmu Kamu hanya lalu.. SIAL !! Satu dasawarsa telah berlalu tapi siapa aku? Aku adalah batu yang hanya diam Melihat indahnya bumi tetapi tidak dapat menghampiri

Yairus

Jumat kemarin saat doa malam, salah seorang sahabat gereja membawakan renungan tentang Yairus. Sebuah renungan yang indah tentang hidup seseorang yang percaya kepada Yesus Kristus. Kebiasaan didoa malam adalah sebelum doa akan ada renungan yang dibagikan dan share. Berikut share dari saya tentang Yairus. Markus 5:21-22. "Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu  mengerumuni Dia. Sedang Ia berada ditepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Seorang ayah yang anaknya sedang sakit hampir mati mencari Tuhan Yesus agar kiranya Tuhan mau meletakkan tangan-Nya kepada anak itu dan anak itu akan sembuh. Saya pikir bila anak itu hampir mati, maka ayah tersebut pasti bur...

Sekelebat Suara

Dengan tidak merendahkan dan menghargai.. ilmu diberi Dengan tidak membesarkan dan mengasihi.. damai diraih Yang kecil membelakangi dan yang besar menutupi Apa lebihnya menjadi yang diketahui? bila harus ada yang tidak diketahui Seorang raja tegak berdiri dan budak berlutut mencium kaki Apa karena menaklukan? atau tidak ada yang dapat ditaklukan!

Potong Tanganmu !

Seorang ayah yang bijaksana memiliki anak yang sangat nakal, di sekolahnya anak ini sering kali berkelahi dengan temannya. Setiap dinasehati ayahnya ia selalu berkata akan berubah, tetapi kenakalan tetap dilakukannya. Suatu hari saat ayah anak itu pulang dari kerjanya ia terkejut karena di rumahnya banyak sekali orang yang berkumpul. Setelah orang-orang tersebut membuka jalan untuk ia masuk, ia melihat seorang pria besar sedang memarahi anak dan istrinya. Ternyata anak tersebut baru saja tawuran dengan anak sekolah lainnya. Tawuran tersebut mengakibatkan tangan anak pria besar itu putus dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pria besar itu berteriak-teriak sambil mengacungkan parang besar ditangannya untuk menuntut balas. Dengan sigap ayah yang bijaksana tersebut merangkul anak dan istrinya dan menarik mereka mundur. Ratusan kata maaf dan permohonan ampun diutarakan ayah tersebut kepada pria besar yang sedang naik pitam, apa daya ia tetap tidak dapat memaafkannya. Akhirnya ayah yang ...

Antre

Beberapa waktu lalu kata "antre" terngiang dikepala, dalam KBBI antre berarti berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Di kota Jakarta yang padat dan ramai ini melihat deretan orang yang menunggu untuk dilayani seperti di : pom bensin, rumah makan, bioskop dan toko sudah menjadi hal biasa. Walaupun hal tersebut biasa dilihat, tapi masih banyak yang tidak memahami maksud antre. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana beberapa orang dengan rasa tidak malu atau memang menganggap kelakuannya normal atau sesuai dengan norma-normal masyarakat menggunakan uang, kekuasaan atau kekuatan tidak ikut berderet sesuai urutan datang. Contohnya waktu mama urus KTP, waktu itu aturan pengambilan KTP adalah 2 minggu setelah pengajuan pembuatan/perpanjang, hari itu saya ikut antar mama untuk ambil KTP yang sudah 2 minggu lalu diurus. Sampai disana ternyata KTP tersebut belum dibuat, lalu mama tanya kok belum dibuat... kemudian petugas tersebut baru mengurus KTP t...