Langsung ke konten utama

Postingan

Potong Tanganmu !

Seorang ayah yang bijaksana memiliki anak yang sangat nakal, di sekolahnya anak ini sering kali berkelahi dengan temannya. Setiap dinasehati ayahnya ia selalu berkata akan berubah, tetapi kenakalan tetap dilakukannya. Suatu hari saat ayah anak itu pulang dari kerjanya ia terkejut karena di rumahnya banyak sekali orang yang berkumpul. Setelah orang-orang tersebut membuka jalan untuk ia masuk, ia melihat seorang pria besar sedang memarahi anak dan istrinya. Ternyata anak tersebut baru saja tawuran dengan anak sekolah lainnya. Tawuran tersebut mengakibatkan tangan anak pria besar itu putus dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pria besar itu berteriak-teriak sambil mengacungkan parang besar ditangannya untuk menuntut balas. Dengan sigap ayah yang bijaksana tersebut merangkul anak dan istrinya dan menarik mereka mundur. Ratusan kata maaf dan permohonan ampun diutarakan ayah tersebut kepada pria besar yang sedang naik pitam, apa daya ia tetap tidak dapat memaafkannya. Akhirnya ayah yang ...

Antre

Beberapa waktu lalu kata "antre" terngiang dikepala, dalam KBBI antre berarti berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Di kota Jakarta yang padat dan ramai ini melihat deretan orang yang menunggu untuk dilayani seperti di : pom bensin, rumah makan, bioskop dan toko sudah menjadi hal biasa. Walaupun hal tersebut biasa dilihat, tapi masih banyak yang tidak memahami maksud antre. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana beberapa orang dengan rasa tidak malu atau memang menganggap kelakuannya normal atau sesuai dengan norma-normal masyarakat menggunakan uang, kekuasaan atau kekuatan tidak ikut berderet sesuai urutan datang. Contohnya waktu mama urus KTP, waktu itu aturan pengambilan KTP adalah 2 minggu setelah pengajuan pembuatan/perpanjang, hari itu saya ikut antar mama untuk ambil KTP yang sudah 2 minggu lalu diurus. Sampai disana ternyata KTP tersebut belum dibuat, lalu mama tanya kok belum dibuat... kemudian petugas tersebut baru mengurus KTP t...

Kehilangan nama?

Di salah satu bagian dari buku "Burung Berkicau" karya Anthony de Mello SJ terdapat kisah ber judul  "baiklah,baiklah", berikut kisahnya : Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah, Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa. Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, 'Baiklah, baiklah.' Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya. Guru itu jatuh namanya...

Kilas Balik Motret

Dah lama nga nge-blog, kali ini gw mau cerita senjarah kenal dengan fotografi. "Perpisahan di Jogja" Disini pertama kali gw disuruh foto temen-temen yang lagi mejeng-mejeng di candi prambanan. "Pernikahan temen" Waktu itu ketemu temen lama dinikahan temen yang lain dia minta gw fotoin pake kamera HP dan ternyata dia suka, trus dia minta tolong untuk liput resepsi pernikahan dia nah disini gw dapet nyobain Canon dengan mode auto (ga sempet oprak-oprek karena kamera dikasih on the spot). "Baduy" May 2016, temen kantor ajak jalan ke Baduy dia punya dua kamera : satu nikon yang lain canon, nah disini gw dipinjemin nikonnya D3100. Gw excited banget deh hahaha maklum ingatan lama yang tertimbun oleh kehidupan game, program dan biola terbuka. Ini beberapa gambarnya : Disini lah awal terpikir untuk punya kamera sendiri dan setelah beberapa bulan akhirnya gw memilih Nikon D7200 jadi partner untuk belajar fotografi. Oh iya Baduy itu indah ...

Kompas

Dulu pernah saya berpikir akan kemanakah saya bila saya hilang ingatan ? apakah saya akan pulang ke rumah, ke rumah ibadah, ke rumah teman, ke warnet, ke kampus, ke taman, atau saya akan luntang-lantung di jalan karena tidak ada tujuan. Sebenarnya apa sih yang paling diingat oleh pikiran saya ? apakah saya mengingat orang tua, Tuhan, teman, guru atau saya tidak ingat apa-apa dan akan merasa seperti apa saya saat itu ?. Saya menuliskan hal ini karena kemarin saya mendengarkan khotbah minggu ko Yosua yang membahas tentang "Tujuan". Pokok khotbah tersebut adalah 4 "as" : jelas, kualitas, komunitas dan keatas. Dari khotbah tersebut saya merenungkan bahwa tidak hanya orang yang lupa ingatan yang dapat tersesat tetapi juga orang yang sadar, orang yang sadar tetapi tidak ada tujuan atau orang yang mempunyai tujuan tetapi tidak tahu cara sampai tujuan. Jelas, ko Yosua menganalogikannya dengan koper. Koper memiliki banyak ukuran, untuk menggunakan koper yang tepat kit...

Pandangan Matanya

Komandan tentara pendudukan berkata kepada kepala desa di pegunungan: 'Kami yakin, kamu menyembunyikan seorang pengkhianat di kampungmu. Jika kamu tidak menyerahkannya kepada kami, dengan segala cara kami akan menyiksamu bersama dengan penduduk desamu.' Kampung itu memang menyembunyikan seseorang yang tampaknya baik, tidak bersalah serta disayang semua orang. Tetapi apa daya kepala desa itu, kalau keselamatan seluruh kampungnya terancam? Musyawarah berhari-hari di balai desa ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya, kepala desa membicarakan masalah itu dengan pastor di desa. Semalam suntuk mereka berdua mencari-cari pesan dalam Kitab Suci dan akhirnya menemukan pemecahan. Ada nas yang mengatakan: 'Lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa.' Maka kepala desa menyerahkan orang yang tidak bersalah itu kepada tentara pendudukan, sambil memohon supaya diampuni. Namun orang itu justru berkata bahwa bahwa tidak ada yang perlu dimohonkan ampun. Ia tidak ingi...

Sang Daun

Keberadaan ku tanda semarak keindahan musim Keberadaan ku tanda bahwa dingin telah berlalu Keberadaan ku karena adanya kehangatan Kehangatan dari Dia yang memberi kehidupan Waktu ku tak lama, hanya beberapa bulan saja Berada karena cahaya, tiada karena cahaya Tidak menunggu, karena tak semu Waktunya kan digenapi, ketika angin itu membawa ku terjatuh Bersama semua ingatan aku menghampiri bumi Menjadi lebih berarti untuk yang kan datang Agar yang kan datang memperoleh sumber dimasa yang sukar Akan terlupa dan diinjak-injak orang