Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Pendetaku : Datang Terlambat

Selesai Ibadah Pagi, Pak Pendeta melihat wajah Pak Budi begitu muram.. Ia kemudian dipanggilnya untuk berbicara di ruang pastoral. Di ruang pastoral Pak Budi menceritakan bahwa ia muram karena merasa serba salah. Beberapa minggu ini ia datang terlambat ke gereja karena harus menunggu istrinya yang lama saat siap-siap ke gereja. Ia pernah meninggalkan istrinya dan pergi lebih dulu dan akhirnya mereka bertengkar saat pulang ke rumah. Ia ingin disiplin untuk tidak datang terlambat ke gereja, tapi ia juga tidak ingin ada pertengkaran dengan istrinya. Lalu Pak Pendeta memberikan nasihat kepadanya : "Minggu besok kamu harus tunggu istrimu bahkan bantu ia siap-siap, bila tetap terlambat tidak apa-apa.. jangan perasaan kesal karena terlambat membuat mu marah pada hari itu.". Pak Budi kemudian berpamitan untuk pulang kepada Pak Pendeta. Minggu berikutnya Pak Budi datang terlambat bersama keluarganya, setelah usai Ibadah Pak Pendeta menghampiri Pak Budi dan keluarga. Ia menasehat...

Bara Jiwa

Apakah aku harus menyerah dengan diam, yang kusebut ketenangan? Apakah aku harus berjuang dengan ketidakpastian, yang kusebut penolakan? Bila ini cobaan aku pasti akan memenang! Bila ini larangan, mungkinkah aku melawan semesta? Langit berputar mengelilingi ku, bagaimanapun aku bertindak! Malam datang lagi dan lagi hingga aku melemah, sampai kapan aku dapat terus membuka mata? Dimana suara itu yang kutunggu-tunggu sebagai tanda? Dimana teriakan itu yang kunanti-nanti sebagai perintah? Sudahlah jiwa, aku tahu ini akan sia-sia.

Pelajaran dari hujan

Langit begitu gelap ketika 3 kakak beradik ingin pulang ke rumah. Mereka hanya membawa 2 jas hujan saja. Anak kedua langsung menggunakan jas hujannya. Karena hanya tersisa 1 jas hujan, sang kakak menyuruh adik terkecil untuk menggunakannya seraya berkata : "Hanya akan mendung saja dan takkan turun hujan sampai kita di rumah". Lalu adik terkecil mengenakan jas hujan yang kebesaran tersebut. Mereka pulang dengan berlari, sesekali sang kakak menunggu adik terkecilnya. Sesampai di rumah Ibu menanyakan mengapa sang kakak dan adik terkecil gembira sedangkan kakak kedua cemberut. Sang kakak pertama berkata bahwa ia bahagia karena apa yang dikatakan sebelumnya benar bahwa langit hanya mendung saja. Sang kakak kedua cemberut karena ia kesal sudah susah payah menggunakan jas hujan tetapi tidak turun hujan. Sang adik terkecil gembira karena kakak pertamanya tidak basah kuyup karena hujan. Lalu Ibu tersenyum. Dari balik jendela nenek memperhatikan dan baru menya...

Yang Tetap

Seperti embun yang disapu Mentari Yang tak pernah menyerah untuk datang setiap pagi Seperti awan yang dilenyapkan hujan Ia jatuh tetapi akan naik kembali Demikian rasa, tidak akan pernah lenyap Hanya berubah cita

Diam

Apakah bila tak terucap sepatah kata pun itu diam? Apakah bila tak tertulis satu huruf pun itu diam? Apakah bila kita saling memikirkan dan tak berbicara itu diam? Apakah bila kita saling memandang dan tak berkata itu diam? Aku tidak benar-benar diam

Sajak lalu

Ada masa dimana Rajawali berhenti dan berdiam Hujan tidak membasahi bumi Dan sahabat meninggalkan. Bukan karena Rajawali menyerah kepada badai Atau hujan melupakan bumi Dan sahabat ingin berpisah dan pergi Tetapi ada fase dimana untuk tetap bersama kita harus berpisah. Bukankah kita akan saling merindu? bukankah kamu menjadi lebih nyata dipikiranku? bukankah bukankah bukankah? Aku merasa telah melewati sesuatu yang penting di masa lalu Tapi apa itu? Ketika aku melihatmu baru ku tahu Banyak waktu ku lewati tanpa mengenalmu Kamu hanya lalu.. SIAL !! Satu dasawarsa telah berlalu tapi siapa aku? Aku adalah batu yang hanya diam Melihat indahnya bumi tetapi tidak dapat menghampiri