Langsung ke konten utama

Sang Pengendali

Ito adalah seorang pemuda berumur 23 tahun, ia baru saja lulus dari sekolah tinggi dekat tempat tinggalnya berada. Ia adalah anak yang cukup pintar dan rajin, beberapa hari yang lalu karena nilai hasil sekolahnya baik Ia diterima bekerja di Kota.
Jarak antara rumah dan tempat Ia bekerja cukup jauh, diawal masa kerjanya Ia terlihat sangat bersemangat dan Ia selalu datang tidak terlambat. Tetapi itu bertahan hanya 1 tahun saja, setelah itu Ia sering sekali terlambat.
Suatu ketika saat Ito tidak masuk kerja Ia berjalan-jalan di bukit  dekat rumahnya. Ito bermaksud untuk mencari udara segar dan tempat yang tenang untuk berpikir, celaka !! karena keasyikan berjalan Ito tersesat, karena kebingungan Ia coba mengikuti jalan  yang pernah Ia lewati untuk kembali kerumah,  ditengah jalan Ito yang tersesat bertemu dengan seorang pria paruh baya yang sedang mengangkat kayu potong. Ito merasa takut dengan orang tersebut karena orang tersebut membawa sebilah kapak besar yang sedang dipegangnya. Ito menghentikan langkahnya dan berusaha untuk berbalik dan pergi, tetapi orang itu memanggilnya "Mau kemana kamu anak mudah ? hari sudah mulai malam", Ito baru menyadari bahwa matahari mulai terbenam. Karena dipanggil Ito tidak dapat lari lagi, akhirnya Ia menjawab pertanyaan orang yang membawa kapak tersebut "Aku tersesat".  "Hahaha, mari ikut aku kau membutuhkan tempat istirahat untuk malam ini, besok aku dapat mengantar engkau untuk keluar dari hutan dibukit ini". Karena tidak ada pilihan dan dengan rasa takut Ito mengiyakan ajakan tersebut.
Sesampainya dirumah pria tersebut, Ito mulai tidak merasa takut seperti pertama kali Ia bertemu. Pria tersebut menyuguhkan Ito segelas teh dan beberapa potong singkong yang telah direbus untuk dimakan. Karena terlalu lelah berjalan akhirnya setelah makan Ito langsung tertidur dengan nyenyak.
Suara burung dan hewan-hewan dihutan tersebut membangunkan Ito pada pagi harinya. Saat terbangun Ito kemudian mencari pria tersebut untuk mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang telah diberikan.
Ito mencari pria tersebut keseluruh isi rumah namun tidak menemukannya, kemudian Ia keluar dari rumah dan mencari disekitar rumah, sesampainya di ladang ia melihat pria tersebut sedang mengerjakan tanah, kemudian Ito menemuinya dan mengucapkan terima kasih.
Karena melihat wajah Ito yang muram pria tersebut menanyakan apa yang terjadi kepadanya, karena merasa bahwa pria tersebut adalah orang yang telah menolongnya Ia pun mulai bercerita alasannya kebukit tersebut.
Dari hasil perbincangan pria tersebut menasehati Ito untuk dapat mengendalikan diri.
Pria : "Saat ini kamu tidak benar-benar hidup."
Ito : "Tidak benar-benar hidup?"
Pria : "Ya kamu tidak benar-benar hidup, karena kamu melakukan tetapi kamu tidak tahu mengapa kamu melakukan. kamu memilih tapi tidak tahu mengapa kamu memilih, kamu diam bukan karena kamu ingin diam."
Ito : "......" ito diam dan mulai berpikir.
Pria : "Kamu lihat air dan bambu itu ?"
Ito : "Ya..."
Pria : "Bambu menggerakan air atau air yang menggerakan bambu ?"
Ito : "Air yang menggerakan bambu"
Pria : "Jawabmu benar, bambu itu bergerak karena sifat air, dengan sifat dasarnya air itu memaksa bambu untuk bergerak"
Pria : "Masalah mu adalah karena kamu tidak benar-benar dapat mengendalikan dirimu"
Pria : "Kendalikanlah dirimu seperti air tersebut mengendalikan bambu, paksa jiwa mu dengan sifat-sifat dasar dari dirimu, selalu kalahkan dia, bila engkau terus mengalahkannya maka engkau akan menciptakan prinsip, dan prinsip itulah  yang akan membentengimu. Aku tahu kamu merasa sulit untuk melakukan itu, sama seperti seseorang yang memainkan biola, ia tidak akan langsung dapat menggeseknya tanpa membunyikan yang lain. tapi itulah "mengendalikan"".
Setelah mengatakan hal tersebut Ito diantar untuk keluar dari hutan dibukit tersebut. Saat keluar dari hutan tersebut Ito teringat bahwa Ia lupa menanyakan nama pria tersebut,  kemudian Ito menamakan pria tersebut sebagai sang "pengendali".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keteguhan Hati

Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash Dua orang kakek yang sudah lama tidak bertemu membuat janji bertemu di depan sekolah tempat di mana mereka pernah menuntut ilmu. Kira-kira sudah 30 tahun mereka tidak pernah bertemu, dahulu mereka adalah teman yang sangat akrab. Pada pertemuan itu mereka saling memuji tentang apa yang mereka telah capai, tetapi kemudian mereka berdua terdiam lalu menangis. Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui  yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari." Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yan...

Hari pertama di AVC Depok

 Yup, AVC Depok !!! Tadi dijalan waktu pulang dari kantor kepikiran untuk mengabadikan hari pertama di AVC Depok,  mengapa diabadikan ? karena mungkin moment-moment disana mau gw ingat lagi soalnya menurut gw ikut dalam AVC Depok adalah sebuah perjuangan. Buat yang belum tahu AVC Depok itu apa, AVC Depok adalah singkatan dari Autodidact Violin Community, komunitas Biola yang berada di Depok tepatnya Perpustakan UI. Untuk informasi AVC Depok disearch di google aja ya banyak kok infonya.. atau kunjungin aja webnya disini http://depok.avc.web.id/ Oke balik lagi, sebenarnya sebelum ikut AVC Depok gw pernah private gitu di Taman Suropati nga lama sih... kira-kira 1 bulan lebih, setelah itu vakum gitu nga kesana-sana lagi... biola jarang dimainin dan kalo dimainin juga cuma tangga nada aja sama lagu-lagu suzuki book 1, selama berbulan-bulan tuh begitu terus kira-kira 1 tahun deh.. (itu mah bukan berbulan-bulan jun hahaha, *biar berasa sebentar). Nah dimasa kegelapan itu se...

Nuja

Tak ada hati yang lebih besar dari hati orang-orang yang walaupun tidak salah tetapi meminta maaf, yang walaupun dihina tetapi terus menolong, yang walaupun disakiti tetapi terus mengasihi. Tak ada jiwa yang lebih kuat dari jiwa orang-orang yang walaupun susah tetapi pantang menyerah, yang walaupun lemah tetapi tak pernah pasrah, yang walaupun jatuh tetapi tak pernah mengeluh. Kepadanya pertolongan Allah akan turun seperti hujan yang pernah menenggelamkan bumi. Sehingga gempar seluruh ciptaanNya.