Semua orang memiliki cerita tentang hujan, dari yang senang sampai yang sedih. Dan aku pun memilikinya. Saat duduk dikelas 3 sd atau 5 sd saya lupa tepatnya terjadi hujan badai, waktu itu kami sekeluarga tinggal di pabrik helm yang dimiliki oleh sepupu Papa. Rumah kami terletak di tengah-tengah dan masih terbuat dari kayu.. hujan badai itu begitu besar sampai rumah bergoyang, genteng terbang ke bawa angin.. saat itu keadaan rumah gelap... sangat gelap!! yang terdengar cuma suara mama dan papa yang berusaha menenangkan kami, selain mama dan papa disitu ada cece dede dan aku. Kami semua masih kecil.. saat itu yang bisa aku lakukan cuma berdoa berdoa dan berdoa. Timbul pikiran kalo ini mungkin malam terakhir aku di dunia. ngeri ngeri banget.. dulu aku seorang yang penakut, tidur ga boleh lebih malem dari orang karena takut kalo ketinggalan, dan banyak hal copo yang lain. Karena kecapean aku tertidur, dan besoknya setelah bangun dan disuruh ke sekolah aku lihat disekitar rumah, banyak rumah yang gentengnya terbang kemana-mana berantakan.. dan itu pengalaman yang sangat mengerikan untuk anak kecil seperti saya. Hujan mengajarkan banyak hal, mengajarkan untuk berharap kepada Tuhan, untuk bersyukur kepada Tuhan, untuk merendah dihadapan Tuhan dan untuk percaya adanya Tuhan. Karena hujan setiap orang berjalan lambat.. berhati-hati dan saling berpegangan dan setelah hujan itu redah.. yang tinggal adalah kesunyian, kedamaian dan ketenangan...
Photo by eberhard 🖐 grossgasteiger on Unsplash Dua orang kakek yang sudah lama tidak bertemu membuat janji bertemu di depan sekolah tempat di mana mereka pernah menuntut ilmu. Kira-kira sudah 30 tahun mereka tidak pernah bertemu, dahulu mereka adalah teman yang sangat akrab. Pada pertemuan itu mereka saling memuji tentang apa yang mereka telah capai, tetapi kemudian mereka berdua terdiam lalu menangis. Kakek yang seorang pengusaha berkata kepada sahabat-nya : "Pada akhirnya diusia yang sudah tua ini dan dengan harta yang sangat banyak ini, aku masih iri denganmu yang terus setia melayani Tuhan, yang memikirkan keadaan melampaui yang sementara ini.". Lalu kakek yang lain pun menjawab : "Aku pun iri dengan mu, yang tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan makan apa keluarga ku esok hari." Pada akhirnya apapun yang kita lakukan akan dipertanyakan, baik oleh diri kita sendiri maupun orang lain, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Lalu bagaimana agar apa yan...
Komentar
Posting Komentar