Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Potong Tanganmu !

Seorang ayah yang bijaksana memiliki anak yang sangat nakal, di sekolahnya anak ini sering kali berkelahi dengan temannya. Setiap dinasehati ayahnya ia selalu berkata akan berubah, tetapi kenakalan tetap dilakukannya. Suatu hari saat ayah anak itu pulang dari kerjanya ia terkejut karena di rumahnya banyak sekali orang yang berkumpul. Setelah orang-orang tersebut membuka jalan untuk ia masuk, ia melihat seorang pria besar sedang memarahi anak dan istrinya. Ternyata anak tersebut baru saja tawuran dengan anak sekolah lainnya. Tawuran tersebut mengakibatkan tangan anak pria besar itu putus dan harus dilarikan ke rumah sakit. Pria besar itu berteriak-teriak sambil mengacungkan parang besar ditangannya untuk menuntut balas. Dengan sigap ayah yang bijaksana tersebut merangkul anak dan istrinya dan menarik mereka mundur. Ratusan kata maaf dan permohonan ampun diutarakan ayah tersebut kepada pria besar yang sedang naik pitam, apa daya ia tetap tidak dapat memaafkannya. Akhirnya ayah yang ...

Antre

Beberapa waktu lalu kata "antre" terngiang dikepala, dalam KBBI antre berarti berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Di kota Jakarta yang padat dan ramai ini melihat deretan orang yang menunggu untuk dilayani seperti di : pom bensin, rumah makan, bioskop dan toko sudah menjadi hal biasa. Walaupun hal tersebut biasa dilihat, tapi masih banyak yang tidak memahami maksud antre. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana beberapa orang dengan rasa tidak malu atau memang menganggap kelakuannya normal atau sesuai dengan norma-normal masyarakat menggunakan uang, kekuasaan atau kekuatan tidak ikut berderet sesuai urutan datang. Contohnya waktu mama urus KTP, waktu itu aturan pengambilan KTP adalah 2 minggu setelah pengajuan pembuatan/perpanjang, hari itu saya ikut antar mama untuk ambil KTP yang sudah 2 minggu lalu diurus. Sampai disana ternyata KTP tersebut belum dibuat, lalu mama tanya kok belum dibuat... kemudian petugas tersebut baru mengurus KTP t...

Kehilangan nama?

Di salah satu bagian dari buku "Burung Berkicau" karya Anthony de Mello SJ terdapat kisah ber judul  "baiklah,baiklah", berikut kisahnya : Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah, Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa. Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, 'Baiklah, baiklah.' Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya. Guru itu jatuh namanya...