Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Kompas

Dulu pernah saya berpikir akan kemanakah saya bila saya hilang ingatan ? apakah saya akan pulang ke rumah, ke rumah ibadah, ke rumah teman, ke warnet, ke kampus, ke taman, atau saya akan luntang-lantung di jalan karena tidak ada tujuan. Sebenarnya apa sih yang paling diingat oleh pikiran saya ? apakah saya mengingat orang tua, Tuhan, teman, guru atau saya tidak ingat apa-apa dan akan merasa seperti apa saya saat itu ?. Saya menuliskan hal ini karena kemarin saya mendengarkan khotbah minggu ko Yosua yang membahas tentang "Tujuan". Pokok khotbah tersebut adalah 4 "as" : jelas, kualitas, komunitas dan keatas. Dari khotbah tersebut saya merenungkan bahwa tidak hanya orang yang lupa ingatan yang dapat tersesat tetapi juga orang yang sadar, orang yang sadar tetapi tidak ada tujuan atau orang yang mempunyai tujuan tetapi tidak tahu cara sampai tujuan. Jelas, ko Yosua menganalogikannya dengan koper. Koper memiliki banyak ukuran, untuk menggunakan koper yang tepat kit...

Pandangan Matanya

Komandan tentara pendudukan berkata kepada kepala desa di pegunungan: 'Kami yakin, kamu menyembunyikan seorang pengkhianat di kampungmu. Jika kamu tidak menyerahkannya kepada kami, dengan segala cara kami akan menyiksamu bersama dengan penduduk desamu.' Kampung itu memang menyembunyikan seseorang yang tampaknya baik, tidak bersalah serta disayang semua orang. Tetapi apa daya kepala desa itu, kalau keselamatan seluruh kampungnya terancam? Musyawarah berhari-hari di balai desa ternyata tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya, kepala desa membicarakan masalah itu dengan pastor di desa. Semalam suntuk mereka berdua mencari-cari pesan dalam Kitab Suci dan akhirnya menemukan pemecahan. Ada nas yang mengatakan: 'Lebih baik satu orang mati daripada seluruh bangsa.' Maka kepala desa menyerahkan orang yang tidak bersalah itu kepada tentara pendudukan, sambil memohon supaya diampuni. Namun orang itu justru berkata bahwa bahwa tidak ada yang perlu dimohonkan ampun. Ia tidak ingi...

Sang Daun

Keberadaan ku tanda semarak keindahan musim Keberadaan ku tanda bahwa dingin telah berlalu Keberadaan ku karena adanya kehangatan Kehangatan dari Dia yang memberi kehidupan Waktu ku tak lama, hanya beberapa bulan saja Berada karena cahaya, tiada karena cahaya Tidak menunggu, karena tak semu Waktunya kan digenapi, ketika angin itu membawa ku terjatuh Bersama semua ingatan aku menghampiri bumi Menjadi lebih berarti untuk yang kan datang Agar yang kan datang memperoleh sumber dimasa yang sukar Akan terlupa dan diinjak-injak orang

Nuja

Tak ada hati yang lebih besar dari hati orang-orang yang walaupun tidak salah tetapi meminta maaf, yang walaupun dihina tetapi terus menolong, yang walaupun disakiti tetapi terus mengasihi. Tak ada jiwa yang lebih kuat dari jiwa orang-orang yang walaupun susah tetapi pantang menyerah, yang walaupun lemah tetapi tak pernah pasrah, yang walaupun jatuh tetapi tak pernah mengeluh. Kepadanya pertolongan Allah akan turun seperti hujan yang pernah menenggelamkan bumi. Sehingga gempar seluruh ciptaanNya.

Jauh

Bila kata utarakan ku Maka jauh mendekati bibirku Bukan karena jarak Karena satu langit denganmu Buka karena waktu Karena matahari ku matahari mu Seperti gunung merindukan laut Seperti cakrawala merindukan daratan luas Hanya dapat melihat tak dapat beranjak Hanya dapat memandangi tetap tak dapat saling berbagi Sama-sama kuat dan terus tidak bergerak Sama-sama tercengkram erat oleh bumi yang dipijak Jauh jauh jauh