Ada cahaya yang tidak menyilaukan, hanya seberkas lembut, menyentuh permukaan meja kayu, menyelinap lewat jendela yang terbuka setengah. Itu bukan cahaya yang ingin dilihat dunia, tapi cahaya yang hanya bisa dirasakan hati. Ia hadir dalam diam, seperti doa yang tak diucapkan, seperti ingatan yang tak ingin hilang. Cahaya itu bukan kemenangan, bukan jawaban besar. Ia hanyalah kehangatan kecil yang membuat kita tetap percaya, bahwa esok masih layak ada. Dalam kesunyian musik yang perlahan mengalir, cahaya itu menjadi teman, menjadi saksi, menjadi alasan untuk tetap berjalan.
"And delivered His strength into captivity, and His glory into the enemy's hand."