Bukan air mata tetapi darah. Bukan hanya penderitaan tetapi maut. Hari itu aku melihat semua kepalsuan dari yang menggebuh-gebuh, keramaian dikota raja, tetesan darah disepanjang jalan. Tiga kayu terpancang, dua orang tersalib. Siapakah yang terlupa? Siapakah yang tersisih? Saat aku berada tepat ditengah cakrawala barulah ku lihat siapa Dia yang terlupa, siapa Dia yang tersisih. WajahNya tidak tampak padaku begitu samar dengan darah. Saat ku lihat Ia telah tersalib di tengah dan menggenapi jumlah kayu yang terpancang, ku tutup mataku. Aku tak tahan melihatNya dan mereka pun tak dapat melihatku. Bumi bergoncang, Seorang Agung mendapatkan yang tidak semestinya. Kini telah ratusan ribu hari berlalu, setiap pagi aku bersemangat untuk menceritakan kemuliaanNya melalui cahayaku, setiap pagi aku bersukacita melihat benih-benih gandum yang terus tumbuh; benih-benih gandum yang Ia sayangi, benih-benih gandum yang karenanya Ia relah mati.
"And delivered His strength into captivity, and His glory into the enemy's hand."